Langsung ke konten utama

Postingan

KRTIK ZAMAN

                                Dalam guratan peristiwa, kita tengok betapa air mata bercucur basah. Negri ini sudah banjir penderitaan, tapi dirasa telinga memang jauh dari rintih si miskin. Tatapan mata memandang tidak apa adanya, rasanya kita sudah habis naluri nasib sepenanggungan. Padahal bercorak tengger kalimat demi kalimat, angka demi angka, tentang kebobrobkan negri kita. Peta kemiskinan tak lihat betapa banyak jumlahnya, termanipulasi dalam batasan kemiskinan ala pemerintah. Tengok kanan, tengok jauh ke kanan. Si kecil meratap senyum dibalik kaca bening restoran mewah milik rakyat kota. Ia hanya tersenyum! Menelan ludah dan tak mampu senyapkan bunyi kerocong di perut. Perkasa bertubuh lemah pun demikian, ia membukti hebat dihadapan anak, tapi rapuh selangkah demi selangkah, merangkak hemat sambil memikul beban sampah, dalam ingatannya, dalam kalbunya, dalam ...

SELAMAT HARI PEREMPUAN SEDUNIA

            Pada hari ini spesial sekali bagi kaum perempuan sedunia, sejarah mencatat tentang perjuangan perempuan untuk membuka suara dan mengangkat haknya sebagai insan merdeka diakui. Dalam catatan sejarah yang buruk, sempat terjadi kesalahan pemahaman tentang peran perempuan, standarisasinya perempuan sebagai seorang pelayan dapur, maka akses pendidikan sulit serta pernyataan kermerdakaan bersuara di ranah publik. Dahulu terjadi pengekangan tersebut di eropa, hingga pada akhirnya muncullah gerakan feminis yang berusaha memperjuangan hak perempuan. Di tanah airpun demikian, muncullah R.A Kartini, melatarbelakangi kesedihan kaum perempuan pribumi, dan semangat asa membangkitkan perannya untuk bisa berkontribusi dalam fase pembangunan bangsa, yang kala itu kita terjajah dari Belanda dan Jepang.             Islam sedariawal menyadari keterbalakangan pemahaman tentang ...

Menata Anak Tangga - Refleksi Perjalanan Dakwah Kampus

            Kehidupan kampus adalah idaman. Ternantikan jutaan orang untuk bisa mengenyam indahnya berinteraksi dengan banyak orang bervisi besar. Dalam kampus kita belajar kehidupan miniatur, demi mempersiapkan raga dan jiwa untuk siap mengemban amanah besar di masyarakat. Kitalah yang ternantikan banyak orang, aksinya ditunggu segenap rakyat petani, masyarakat kecil, pedagang kaki lima, untuk membawa perubahan negri. Penuh harap mahasiswa mampu menyajikan kopi hangat kesejahteraan negri agar kekayaannya tak dirauk kepentingan si rakus politikus. Dari kampus pula, kita belajar mengenal diri, daya potensi, menyusun visi, berelasi dan menggapai asa perlahan demi perlahan. Kita menyusun anak tangga impian, step besarnya banyak di mulai ketika kita menjadi mahasiswa. Tapi tak boleh pula kita lupa bahwa anak tangga perlu disusun oleh bahan bambu atau kayu yang kuat tegar dan tak gampang goyah. Ia tidak boleh asal disusun hanya demi m...