![]() |
| Momen konsolidasi bersama tim hebat Harmonyland Group |
Bicara hasil adalah sesuatu yang selalu menjadi perbincangan dalam berbagai lapisan kehidupan kita. Dari mulai kita masih kecil hingga dewasa dan menua, hasil menjadi konteks bahasan dan ukuran dalam berbagai bentuk. Ketika kita kecil hasil dimaknai keberhasilan kita dalam proses sekolah, juara akademik, peringkat raport, masuk perguruan tinggi favorit dll. Beranjak dewasa ketika saatnya masuk dunia professional, hasil biasanya diukur dalam keberhasilan karir dan pernikahan. Semakin matang usia, hasil diukur dari keberhasilan anak dan para cucu kita. Walau terkadang hasil tidak melulu soal angka dan pengakuan sosial, hari ini era dimana media sosial gencar menjadi aksi perbandingan semua pihak tidak menutup kemungkinan status sosial yang pada akhirnya selalu menjadi perhatian. Kemudian tak jarang hal tersebut pada akhirnya menjerumuskan kita pada perkara stress, depresi, karena kebahagiaan kita digantungkan pada pengakuan orang lain. Hingga akhirnya kita perlu memahami bagaimana proses hasil itu terbentuk dan bisa sukses. Apakah ada formula yang menentukan hasil ? sedangkan hasil adalah ukuran yang di luar kendali hidup kita.
Angelina Duckworth dalam bukunya GRIT : The Power of Passion and Perseverance menjelaskan bahwa hasil terbentuk dari skill x effort. Semakin besar kompetensi yang kita miliki dikali dengan tingginya effort atau usaha yang kita lakukan maka potensi kesuksesan jauh lebih besar. Bandingkan mereka yang minim kompetensi tapi malas untuk berusaha, maka kepayahan hidup tinggal menunggu waktu saja. Dalam konsep tersebut, kita disadarkan ketika ingin memiliki hasil yang tinggi dalam pencapaian hidup, maka hal yang perlu kita pahami terlebih dahulu adalah seberapa besar kompetensi atau skill yang kita miliki serta kesiapan kita untuk berusaha keras meraih pencapaian tersebut. Jangan sampai kita menyadari skill kita rendah tapi effort kita justru minim, sebaliknya yang perlu kita pahami ketika skill kita masih rendah kita perlu berusaha 2x lipat dari mereka yang sudah memiliki skill lebih tinggi.
Konsep ini yang dikenali perusahaan tempat saya bekerja Harmonyland Group, dalam membangun mindset bertumbuh untuk mencapai tingkat performa optimal. Namun, seiring berjalannya waktu, saat itu kebetulan saya banyak berhubungan dengan tim sales. Ada di antara tim kami yang kapasitas dan pengalaman kerjanya sebagai sales sudah cukup lama, soal effort juga jangan ditanya, dia adalah orang rajin yang bahkan rela membantu teman-temannya yang kesulitan melakukan proses follow-up, namun nyatanya tidak juga mendapatkan hasil yang cukup signifikan. Banyak di antara kita juga melihat orang-orang yang takdir tidak mencapai batas impiannya padahal dia sudah berjuang lama belajar SNBT, ada juga yang berjuang lama mengikuti tes seleksi CPNS, qaddarullah mereka tidak diterima. Dalam beragam hal ternyata hasil tidak melulu soal skill dan effort.
Sebagai seorang muslim saya menyadari bahwa Allah SWT berkali-kali menyebutkan perkara hasil adalah kerja Allah yang menetapkan takdir. Tugas kita sebagai hamba adalah berikhtiar sebagai bentuk penghambaan mengikuti perintah-Nya. Bayangkan Nabi Nuh a.s, soal kompetensi dakwah jangan ditanya, ayat yang keluar dari lisannya adalah ajaran langsung dari Allah SWT, apalagi perkara effort, berdakwah siang dan malam konsisten istiqamah, menghasilkan pengikut yang jumlahnya bahkan tidak lebih dari satu populasi desa. Nabi Muhammad SAW juga pernah di mention, agar hanya fokus pada proses ikhtiar, yakni menyampaikan ayat-ayat Allah kepada para ummatnya, sedangkan hidayah adalah sepenuhnya milik Allah.
Islam mengajarkan kita effort dan skill bukan satu satunya standar ikhtiar untuk mewujudkan segala hal yang kita inginkan. Sebab apa yang kita inginkan belum tentu, benar-benar yang terbaik untuk kehidupan kita. Nasihat ulama berkata yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, yang baik menurut Allah sudah tentu baik untuk kita. Dahulu saya sangat ingin sekali masuk SMAN Unggulan M.H Thamrin Jakarta, qaddarullah tidak diterima, kemudian saya masuk SMAN 11 Jakarta, ternyata dari sekian fase transformasi hidup saya, SMAN 11 Jakarta adalah tempat yang sangat terkenang bagi saya. Maka dari itu, kita perlu satu ukuran lagi yakni ridho Allah. Maka Matematika result yang lebih lengkap adalah effort x skill x ridho Allah = result.
Ridho Allah adalah satu hal fundamental yang pada akhirnya menentukan segala ikhtiar kita. Matematikanya bernilai 0 atau 1. Kerja kita adalah bagaimana segala yang kita ikhtiarkan mendatangkan Ridho-nya Allah agar tidak sia-sia. Bayangkan jika effort kita sudah bernilai 9 dari 10, skill bernilai 9 dari 10, secara logika yang kita dapatkan adalah 9 x 9 = 81. Namun apa yang terjadi kalau ternyata Allah tidak ridho dengan rencana kita, maka 81 x 0 = 0. Kemudian apa yang terjadi bagi mereka yang tidak siap dengan hal ini ? bukankah hari ini fenomena yang terjadi demikian, orang sedemikian frustasi atas hidupnya ketika semua yang diikhitarkan bernilai 0, mengapa demikian ? karna dia mendewakan ikhtiar di atas takdir yang Allah tetapkan dari konsep result.
Ketika kita memahami konsep result terdiri dari skill x effort x ridho Allah. Konsekuensi dari konsep ini, kita menghilangkan segala konsep tunggal usaha tidak akan menghianati hasil. Pemahaman yang mendalam bagaimana kita menjalani hidup ini dengan kesadaran yang utuh bahwa segala ketetapan takdir bergantung atas keridhoan dari Allah SWT. Hal ini juga menjadi guidance agar segala proses ikhtiar kita tidak melanggar syariat-Nya, melainkan dikunci agar bukan sekedar otak dan raga yang bekerja, tapi juga hati dengan niat ikhlas meraih ridho-Nya. Kita gapai segala cita-cita dan pencapaian, dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Maka kesuksesan yang kita dapatkan, akan menjadi buah syukur. Begitupun kegagalan akan menjadi buah sabar, lantas kembali fokus dengan mengevaluasi pada proses mana yang perlu kita perbaiki, apakah skill yang belum terasah, effort yang belum optimal, atau ikhtiar yang kurang melibatkan Allah dalam prosesnya.

Komentar
Posting Komentar