Langsung ke konten utama

Bukan Sekedar Bangunan Rumah

Parahyangan Green Resort
Parahyangan Green Resort

    

        Alhamdulillah sudah hampir 4 tahun saya menjalani profesi sebagai seorang property developer. Pengalaman paling berharga dalam membangun rumah adalah ketika melihat orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, menghuni rumah yang kita bangun, mereka bahagia, tersenyum ria, dan tumbuh berkembang bersama keluarga tercinta. Bagi saya membangun rumah dan perumahan bukan sekedar pekerjaan, profesi ini adalah bagian dari ladang dakwah saya menjalani misi yang Allah buka karpetnya kepada saya sejak 4 tahun lalu. Dulu saat menjelang kelulusan dari IPB, saya selalu berdo’a agar Allah buka jalan terbaik untuk karir yang benar-benar memberikan dampak kebermanfaatan luas. Bagai gayung bersambut, jarkoman sebuah program Management Trainee dari Harmonyland Group membuka rasa penasaran saya. Saya apply dan Alhamdulillah lolos. Sejak saat itu, nasihat terbaik yang saya dapatkan dari CEO Harmonyland untuk segera memantapkan pilihan jalan terbaik kita untuk berdampak. Kemudian, saya bertekad untuk menjadi pengusaha.


        Misi kemudian berjalan, berbagai tantangan dan rintangan membangun perumahan ternyata tidak mudah. Dari konflik bersama warga kampung, badai complain konsumen, realisasi penjualan jauh dari target, hingga bencana longsor. Tantangan itu memberikan pelajaran berarti bagi saya, bahwa proses adalah nilai yang sangat mahal dari sekedar hasil. Mau tidak mau saya harus banyak belajar, menguatkan kompetensi, dan terus menyadari bahwa amanah tidak hanya butuh sekedar tekad dan cita-cita, tapi juga mental bertumbuh agar kita terus mengimprove niat baik menjadi semakin mulia. Pada akhirnya saya semakin menyadari bahwa membangun rumah dan perumahan butuh berbagai komitmen proses yang tidak instan. Saya selalu berusaha menguatkan komitmen diri bersama semua team untuk meyakini bahwa jalan hebat yang kita kerjakan saat ini adalah ibadah mulia yang tidak ternilai kebaikannya. Terbayangkan satu rumah yang kita bangun akan terus bertahan kebermanfaatannya sampai anak cucu cicit seluruh keturunan keluarga tersebut, bahkan hingga kiamat, dan itulah investasi terbesar hidup kita saat ini. Maka tantangan terbesar kita adalah mempertanyakan diri sendiri, apakah kita sudah memberikan ikhtiar terbaik kita pada setiap fase kontribusi kita di pekerjaan. Jika memang pekerjaan ini adalah ibadah mulia yang kita persembahkan kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa.


        Bangunan fisik bernama rumah itu adalah aset berharga yang bukan sekedar bernilai investasi, bagi mereka yang jatuh cinta, menikmati kenyamanannya, nilai emosional yang hadir lebih berharga dari sekedar nilai nominal yang telah mereka keluarkan. Tidak jarang orang sulit berpisah dari rumah lama karna kenangan memori yang terlalu dalam sudah melekat. Kini menantang diri untuk terus mengimprove karya adalah infinity game yang tidak akan pernah mencapai garis finish. Karna saya menyadari hidup adalah garis ujian dari Allah, yang tidak akan pernah selesai hingga Allah berkata cukup dan waktunya kita beristirahat.




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naik kelas ke level World Class

  Bersama Coach Armala - Februari 2025 Pengalaman yang sangat berharga bagi saya bertemu sosok inspiratif Coach Armala. Pengalaman beliau memimpin perusahaan kelas dunia menyihir pemikiran saya, apakah saya bisa mengikuti jejak beliau dan melangkah lebih jauh ke level dunia ? untuk apa saya berjuang keras sampai ke tahap level tersebut ? terlalu tinggikah saya bercita-cita seperti itu, sedangkan keadaan saya saat ini mungkin sangat jauh dari level worldclass. Hingga pada akhirnya semua itu tampak logis dan mungkin. Beliau bercerita bagaimana tingginya tingkat disiplin pekerja Jepang, perusahaan dimana beliau dahulu ditempatkan. Orang Jepang mengukur kerja dengan produktifitas yang sangat tinggi, tidak leha-leha, dan selalu memiliki ambisi continuous improvement untuk menjadi baik dan terus lebih baik dari hari kemarin. Kemudian beliau sangat tertantang ketika keluar dari mulut seorang bos Jepang mengatakan perusahaannya tidak mendapatkan kontrak pekerjaan karena memiliki leader ora...

Belajar Mental Cerdas dari Singapura

  Merlion Park             Singapura sebagai negara kecil sangat dikenal oleh banyak negara dunia. Besar negara ini tidak lebih dari luas wilayah Jakarta - Depok tapi pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara khususnya sangat diperhitungkan. Siapa sangka negara kecil ini dulu juga miskin, sudahlah miskin sumber daya alam, penduduknya tidak berpendidikan, dan sebagaimana negara baru merdeka pada umumnya. Singapura ternyata pernah menjadi bagian dari negara Malaysia. Sejarah yang tidak dilupakan oleh warganya hingga keinginan mereka untuk berpisah menjadi negara utuh yang merdeka. Ada sebuah julukan unik miskinnya negeri ini dahulu, dikenal negara kota tanpa masa depan .            Dekade waktu berjalan, Singapura tidak kehilangan akal melihat miniminya sumber daya alam mereka. Pemimpinnya sangat memahami kemajuan negerinya tidak terikat oleh kekayaan alam tapi letaknya yang strategis mampu menjadi jembatan di...