Langsung ke konten utama

Jurus tahan banting ala Sales Mindset

 



Pengalaman pertama saya mengikuti program management trainee Harmonyland Group dicemplungkan menjadi seorang sales. Tempat pembelajaran yang bukan sekedar mengajarkan cara berjualan tapi juga mental tahan banting untuk menghadapi tantangan kehidupan. Saat training sebagai sales, saya benar-benar merasakan bahwa dunia sales dengan target, target dan targetnya benar-benar mewarnai otak saya hingga stress, apalagi dihadapi penolakan berkali-kali, teror konsumen yang terganggu, hingga scoreboard result yang terpampang di hadapan semua team. Setelah melewati fase-fase terberat, saya mendapatkan pelajaran penting betapa attitude sebagai seorang sales sangat ditekankan untuk melewati berbagai tekanan hingga mengonversinya menjadi daya ungkit kita untuk berjuang dua kali lipat. Pelajaran terpenting yang saya dapatkan adalah memisahkan antara identity dan role.

Identity mengacu pada bagaimana seorang penjual melihat dirinya sebagai individu. Ini mencakup harga diri, keyakinan pribadi, dan nilai-nilai yang dimiliki. Identity tidak boleh dipengaruhi oleh hasil dari pekerjaan mereka. Sedangkan Role mengacu pada hasil dari segala sesuatu yang kita lakukan dalam peran kita. Role fleksibel bisa berubah, dinilai berdasarkan performa/hasil, tergantung strategi, keterampilan, effort, bisa gagal atau berhasil. Identity sederhananya adalah nilai diri kita, sedangkan role adalah hasil dari apa yang kita lakukan.


Hal yang biasa terjadi seringkali kita mencampuradukkan antara Identity dan Role. Ketika seorang sales di hadapkan dengan banyaknya penolakan, yang terjadi umunya sales tersebut down hingga tahap akutnya mendragadasi nilai atau identity dirinya dengan mengklaim dia tidak mampu, profesinya bukanlah passion, lalu memutuskan resign. Padahal aktualnya boleh jadi ratusan penolakan yang terjadi adalah proses pembelajaran untuk memantapkan role dia lebih baik lagi. Alih-alih mengambil pelajaran dan fokus mencari akar masalah, dia mencampuradukkan hasil rolenya dengan mendegradasi identity dirinya. Ketika meyakini identity kita bernilai 9 dari 10, angka 9 tidak akan pernah turun hanya karna realita role-nya bernilai 2 dari 10. Ingat role sangat mungkin berubah tergantung skill, effort, strategi, dll.


Kejadian sangat umum terjadi pada kehidupan kita, seringkali kita dihadapi pada proses yang teramat pahit, entah persoalan jodoh, rezeki, kedudukan, karir, dll. Dimana semua hal pahit tersebut adalah role dari apa yang kita lakukan, dan sama sekali bukan bagian dari nilai diri kita sebagai seseorang yang memiliki cita-cita tinggi, keyakinan kuat, dan pribadi yang hebat. Faktanya banyak di antara kita mencampuradukkan hal ini hingga menjatuhkan nilai diri kita pada realita pahit. Lalu kita menurunkan standar diri kita menjadi manusia yang tidak layak sukses, tidak akan memiliki pasangan hidup, tak pantas berkedudukan, dll. Hal itu salah sekali, karna sejatinya setiap manusia Allah tinggikan derajatnya sebagai mahluk yang mulia. Siapa yang menghinakan diri kita ? adalah persepsi fikiran kita sendiri.


Bukankah Rasulullah SAW ditolak dakwahnya berkali-kali oleh ummatnya sebelum akhirnya Allah pertemukan dengan para anak muda dari Yastrib, kemudian menjembatani lahirnya masyarakat Islam di penduduk Yastrib yang kini dikenal Madinah. Bukankah Jeff Bezos pendiri Amazon, perusahaanya merugi selama 10 tahun atau 120 bulan sebelum akhirnya mencetak keuntungan. Begitupula dengan Elon Musk yang hampir bangkrut atas krisis perusahaannya tahun 2008, hingga akhirnya bangkit menjadi perusahaan perintis kendaraan listrik dunia. Sunnatullah kehidupan Allah ciptakan proses sebagai rintangan ujian agar Allah melihat batas kesungguhan kita. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naik kelas ke level World Class

  Bersama Coach Armala - Februari 2025 Pengalaman yang sangat berharga bagi saya bertemu sosok inspiratif Coach Armala. Pengalaman beliau memimpin perusahaan kelas dunia menyihir pemikiran saya, apakah saya bisa mengikuti jejak beliau dan melangkah lebih jauh ke level dunia ? untuk apa saya berjuang keras sampai ke tahap level tersebut ? terlalu tinggikah saya bercita-cita seperti itu, sedangkan keadaan saya saat ini mungkin sangat jauh dari level worldclass. Hingga pada akhirnya semua itu tampak logis dan mungkin. Beliau bercerita bagaimana tingginya tingkat disiplin pekerja Jepang, perusahaan dimana beliau dahulu ditempatkan. Orang Jepang mengukur kerja dengan produktifitas yang sangat tinggi, tidak leha-leha, dan selalu memiliki ambisi continuous improvement untuk menjadi baik dan terus lebih baik dari hari kemarin. Kemudian beliau sangat tertantang ketika keluar dari mulut seorang bos Jepang mengatakan perusahaannya tidak mendapatkan kontrak pekerjaan karena memiliki leader ora...

Bukan Sekedar Bangunan Rumah

Parahyangan Green Resort                Alhamdulillah sudah hampir 4 tahun saya menjalani profesi sebagai seorang property developer. Pengalaman paling berharga dalam membangun rumah adalah ketika melihat orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, menghuni rumah yang kita bangun, mereka bahagia, tersenyum ria, dan tumbuh berkembang bersama keluarga tercinta. Bagi saya membangun rumah dan perumahan bukan sekedar pekerjaan, profesi ini adalah bagian dari ladang dakwah saya menjalani misi yang Allah buka karpetnya kepada saya sejak 4 tahun lalu. Dulu saat menjelang kelulusan dari IPB, saya selalu berdo’a agar Allah buka jalan terbaik untuk karir yang benar-benar memberikan dampak kebermanfaatan luas. Bagai gayung bersambut, jarkoman sebuah program Management Trainee dari Harmonyland Group membuka rasa penasaran saya. Saya apply dan Alhamdulillah lolos. Sejak saat itu, nasihat terbaik yang saya dapatkan dari CEO Harmonyland untuk segera memant...

Belajar Mental Cerdas dari Singapura

  Merlion Park             Singapura sebagai negara kecil sangat dikenal oleh banyak negara dunia. Besar negara ini tidak lebih dari luas wilayah Jakarta - Depok tapi pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara khususnya sangat diperhitungkan. Siapa sangka negara kecil ini dulu juga miskin, sudahlah miskin sumber daya alam, penduduknya tidak berpendidikan, dan sebagaimana negara baru merdeka pada umumnya. Singapura ternyata pernah menjadi bagian dari negara Malaysia. Sejarah yang tidak dilupakan oleh warganya hingga keinginan mereka untuk berpisah menjadi negara utuh yang merdeka. Ada sebuah julukan unik miskinnya negeri ini dahulu, dikenal negara kota tanpa masa depan .            Dekade waktu berjalan, Singapura tidak kehilangan akal melihat miniminya sumber daya alam mereka. Pemimpinnya sangat memahami kemajuan negerinya tidak terikat oleh kekayaan alam tapi letaknya yang strategis mampu menjadi jembatan di...