![]() |
| Bersama Coach Armala - Februari 2025 |
Big Why World Class
Sejatinya setiap manusia terlahir dengan potensi kemampuan yang luar biasa. Hal ini difitrahkan dalam QS Al Baqarah ayat 30, bahwa manusia memiliki peran penting seorang khalifah fil ardh atau pemakmur bumi Allah. Pemakmur bumi Allah bukanlah peran sembarangan, tidak mungkin Allah berikan peran itu pada mahluk yang tidak siap dengan segala potensi yang dimilikinya. Jika kita membayangi jabatan direktur perusahaan multinasional adalah jabatan tinggi yang amat berat, mungkinkah pemikul tanggung jawab itu orang biasa yang minim pengalaman dan kemampuan ? rasanya sulit dipercaya. Begitupula peran kita sebagai khalifah fil ardh. Allah tidak melepas kita begitu saja, Allah ciptakan akal, hati, dan agama dalam diri kita sebagai fitrah untuk jalan kita mengabdikan diri menjadi seorang khalifah. Jadi saya heran kalau masih ada muslim yang rendah cita-citanya, barangkali dia belum tahu atau terblok mentalnya hingga melanggar fitrahnya untuk menjadi manusia yang besar dampaknya. Jadi kalau pertanyaannya kenapa kita harus terus meng-upgrade diri kita hingga level dunia ? pertanyakan kembali fitrah kita, selama ini apa yang kita fikirkan tentang tujuan hidup kita ?
Level worldclass bukan sekedar ajang pamer dan keren-kerenan kalau kita punya cita-cita besar. Itu adalah amanah yang Allah titipkan sejak kita di fitrahkan sebagai manusia. Hari ini kita menyaksikan kepahitan dimana mental kita tercabik-cabik, dijatuhkan seakan umat tidak berharga. Kita hanya sanggup bercita-cita hingga menjadi PNS, pegawai pabrik dengan status kartap, pengusaha kaya. Itu tidaklah salah, yang salah ketika kita menjadikan itu sebagai tujuan terbesar hidup kita. Kalaulah kita ditakdirkan sebagai pegawai, jadilah pegawai terbaik yang menginspirasi hingga menjadi teladan untuk mengajak berbagai agenda kebaikan seperti mengaji, baca qur’an, kajian dll. Jika PNS jadilah PNS yang teladan, dengan integritas tinggi dan semangat berprestasi, warnai PNS dengan kesan pelayanan publik yang amanah dan tulus mengabdi. Jika sebagai pengusaha, jadilah pengusaha yang shalih dan menyebar luaskan kemanfaatan. Berprestasi dengan membuka ribuan bahkan jutaan lapangan pekerjaan yang layak, mewarnai karyawan dengan spirit tauhid dan kebaikan, menyedekahkan banyak harta untuk berbagai agenda kebermanfaatan. Apa yang membedakan mereka yang sadar akan fitrah visi besarnya sebagai khalifah dengan bukan, gasasan besar agenda kebaikan dalam posisi apapun dia mengabdi.
Otak sebagai Aset Besar Manusia
Otak manusia sangatlah dahsyat, kalau kita ingin mengumpulkan seluruh koleksi buku yang ada di seluruh perpustakaan dunia ini, maka potensi memori otak jauh lebih besar dari itu semua. Kemampuan otak kita yang sangat besar adalah aset luar biasa yang Allah berikan untuk kita mengemban misi khalifah fil ardh. Tapi mengapa hari ini banyak manusia yang terhempas seperti tidak berdaya dengan nasib hidupnya ? namun ada juga yang keren mentereng seperti Elon Musk hingga hartanya mencapai ribuan triliunan rupiah. Jawabannya karena otak itu sepert termostat, termostat adalah alat pengatur suhu ruangan, jika kita sudah atur suhu ruangan 20 derajat celcius, maka secara otomatis jika suhu mencapai 20 derajat celcius dia mati. Begitupun kalau dia diatur hingga 40 derajat celcius, maka suhu tidak akan berhenti hingga angka 40 derajat celcius. Bayangkan suhu ruangan itu adalah potensi diri kita, maka satu hal yang membatasinya adalah mental dirinya. Elon Musk bisa sekeren itu karena dia setting potensi dirinya ke batas yang sangat tinggi, hingga otaknya terprogram secara alam bawah sadar untuk terus bekerja mencapai settingan tertinggi potensi dirinya. Itu mengapa kita perlu cita-cita yang tinggi, jelas, dan menggerakan!
Penyakitnya banyak di antara kita yang otaknya terblokir potensinya karna sengaja di setting rendah dengan mental block. Mental Block itu sesuatu yang kadang tidak disadari membentuk mindset dan cara merespon segala hal dengan negatif. Sederhana seperti kita ingin jadi direktur, lalu kita berkata “ah mana mungkin, nyari kerja aja susah, boro boro jadi direktur”. Secara tidak langsung orang seperti itu telah memblokir potensi otaknya untuk bekerja keras mencapai cita-citanya!. Lalu bagaimana cara kita menghilangkan mental block ?
Delete Mental Block to Mental The Winner
Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah taubat, karna dengan mensetting diri kita rendahan, tidak bisa apa-apa, penakut, seperti kita sudah diberi makan sama seseorang lalu kita membuang makanan itu begitu saja. Bedanya yang memberi itu Allah dengan nikmat akal, hati, dan agama yang Allah gariskan untuk kita. Tapi kita buang begitu saja nikmat yang sudah Allah berikan. Kita batasi potensi akal, kotori hati, lalu kita dustakan agama sebagai petunjuk jalan hidup. Dikatakan taubat jika sudah memenuhi dua unsur, Pertama, menyesali sudah berlaku zalim pada diri sendiri dan tidak bersyukur atas apa yang Allah beri, kedua bertekad tidak mengulangi kembali dan ingin menjadikan diri lebih baik. Kedua, program otak dengan cara visualisasikan diri di masa depan, tegaskan cita-cita, jika memungkinkan tempel di tempat yang mudah dilihat, karena berdasarkan penelitian manusia yang menuliskan cita-citanya berpotensi jauh lebih sukses, jangan lupa tuangkan dalam do’a - do’a panjang. Ketika memprogram otak, hal itu menjadikan otak bawah sadar bekerja sepenuhnya untuk kita, produknya adalah respon-respon yang akan kita lakukan terhadap berbagai pilihan hidup. Ketiga waktunya beraksi. Karna bedanya cita-cita dengan angan-angan adalah pada aksi nyata mengejar mimpi. Keempat, temukan teman seperjuangan, cari cirlce yang baik, circle positif yang selalu mengajak kita berbuat positif, karena kamu adalah dengan siapa kamu berteman. Berteman dengan minyak wangi, pasti kebagian wanginya. Begitu pula dalam hal pertemanan. Kelima, don’t forget to be growth forever, baca buku, dengarr podcast positif, sharing pengalaman dan yang paling penting hiasi diri dengan majelis ilmu yang menjaga diri kita dengan Allah. Karna sia-sia jika berhasil tanpa ridho-Nya. Bayangin kamu punya harta banyak, investasi dimana-mana, perusahaan besar, tapi di akhirat sama sekali itu semua tidak dilirik sama Allah.
Renungan
Berjuang dengan cita-cita besar adalah agenda untuk mengaplikasi ilmu dan fitrah visi hidup di dunia. Tidak ada yang tidak mungkin tanpa izin Allah, kita hanya perlu meneguhkan hati dengan keyakinan yang kuat, ketulusan do’a, pembuktian usaha, dan hati yang terikat dengan keberserahan kepada-Nya. Semoga Allah meridhoi diri menjadi insan yang Allah muliakan di dunia dan akhirat.

Barakallahu Fiik.. jazakallah khair remindernya,✨✨
BalasHapus