Langsung ke konten utama

Belajar dari Tokoh ‘Radikal’ Kemerdekaan Bangsa : HOS Cokroaminoto


            
Kala itu, ketika Belanda menduduki Indonesia sebagai bangsa berlegalitas pemilik tanah jajahan nusantara yang dikenal Hindia Belanda. Terangkum sejarah, tatkala peristiwa menyeramkan itu membayangi awan hitam fikiran anak negri. Haknya direnggut, diskriminasi terjadi di tanahnya sendiri. Orangtua pesimis akan masa depan, alih alih berfikir cita, menetapkan aman sesuap nasi harian pun tidak bisa dipastikan. Orang-orang pintarnya punya kepentingan, mereka disuapi penjajah dengan hak istimewa. Kurikulum pendidikan dibentuk sebagai siasat memenuhi pundi keuntungan-keuntungan industry dan pekerjaan rumah penjajah. Pusing sekali masa itu, dipaksa bekerja tanpa hasil, dipaksa terima tanpa tawaran, dipaksa hormat tanpa kebijaksanaan.
            Waktu berjalan, keresahan terakumulasi dalam benak sebagian pribumi. Dalam rantai penjagaan Belanda yang ketat, untuk melirik siapa yang hendak melawan kekuasaan negri, lahirlah seorang tokoh ‘radikal’ pada masanya bernama HOC Cokroaminoto. Beliau adalah satu diantara banyak pribumi yang resah dan siap bertindak menjemput hak hakiki kemerdekaan. Iya dia adalah radikalis karna sikap dan tindakannya jelas menentang pemerintahan berkuasa kompeni Belanda. Kezaliman penjajahan meruntuhkan ego takut dalam diri. Dengan suara khasnya Cokroaminoto berkoar sana-sini menyuarakan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Asas nilai yang jelas menjadi garis merah Belanda. Apa yang dilakukan HOS Cokroaminoto ? Menyadarkan, mendidik, menggerakan, dan menularkan visi kemerdekaan kepada banyak-banyak rakyat pribumi hingga sekelompok kecil pemuda yang kelak menjadi promotor penggerak besar kemerdekaan dengan jalannya masing-masing.
            HOS Cokroaminoto dikenal sebagai guru pemimpin bangsa, singa podium, ratu adil dan berbagai gelar atas torehan perjuangannya. Terkenal dalam menggerakan massa yang begitu banyak untuk bersatu dalam bendera naungan organisasi Sarekat Islam. 2 juta lebih terhitung kurang lebih jumlah anggotanya. Masa hidupnya habis memikirkan cara, mengotakatik strategi melalui wadah besar Sarekat Islam. Terkenal sebuah quotes sebagai gambaran jalan ninjanya “setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”. Bahwa ilmu ia tempuh sebagai bahan kontruksi pola pikirnya, mengongkritkan keresahannya, menjalin relasi untuk menggandeng visi. Bahwa tauhid menjadi asas terdasar, tidaklah terbangun keadilan tanpa petunjuk sang maha kuasa, keyakinan bahwasnya Allah berpihak pada yang benar, keyakinan bahwa yang putih perlu ditegakkan, maka kemurnian tauhid menjadi landasan agar hidup benar menaruh arah jalan perjuangan. Dan bahwa siasat, strategi perlu menjadi kemampuan, karna yang hitam begitu rapih terorganisir, sebagaimana sahabat Ali r.a mengatakan “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Beliau pula guru bangsa yang dikenal memiliki anak emas yang kelak membawa dinamika besar arah perjalanan bangsa Indonesia. Kita mengenal Sukarno tokoh nasionalis penggerak kemerdekaan, kita pula mengenal Muso, komunisme menjadi landasan ideologinya untuk membebaskan negri, kita juga mengenal Daulah Islamiyah yang digagas Kartosuwiryo , cita Negara Islam Indonesia menjadi impian Indonesaia kedepan baginya. Nama besar tersebut anak didiknya dalam sebuah indekos miliknya. Pewarisan keresahan, semangat kemerdekaan, dan ilmu membuat 3 nama besar tersebut terbakar semangat, meletus visi untuk ikut sama-sama bergerak.
            Bagi HOS Cokroaminoto, menjadi manusia pembelajar itu sangat penting, ia terbuka dengan berbagai jalan pemikiran, tak lupa ikhtiar mencari benang merah kebaikan yang sinergis dengan asas keislaman. Maka kita mengenal Cokroaminoto adalah seorang sosialis, gagasannya ia taruh dalam arah gerak organisasinya. Intisari sosialis mengajarkan asas persamaan dan persaudaraan, dimana yang tinggi tidak berhak menindas yang rendah, semua sama di mata manusia. Baginya sosialisme sejalan dengan visi keislaman, sebagaimana Islam tidak menginginkan penzaliman terhadap yang lemah, penyamarataan harta dengan istrumen-instrumennya seperti Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf). Menjadi seorang pembelajar, maka telinga harus terbuka ringan, dan mata harus melihat berbagai potensi setiap insan, bahwa pembelajaran tak hanya kita dapatkan dari seorang professor, guru, ataupun ulama. Penting menjadi pembelajar, maka penting pula menjadi seorang pengajar, ilmu yang kita miliki akan layu dan kropos tatkala asahan kita hentikan. Asahan itu adalah transfer pengetahuan, maka recharge wawasan teringat kembali dan semaakin menghayati untuk bisa kita amalkan senantiasa.
            Berlatar seorang jurnalis, juga seorang orator ulung. HOS Cokroaminoto mengajarkan muridnya tentang apa itu pemimpin besar. “Berbicaralah layaknya orator ulung, menulislah layaknya seorang jurnalis” pernyataan tegasnya tentang khas seorang pemimpin. Mindset positif memberikan warna yang baik bagi hidup seseorang, Islampun mengajarkan kita berlaku positif baik dari prasangka, sikap ataupun tindakan. Cokroaminoto mengajarkan demikian, agar mental keras tertanam sebagai seorang pembawa perubahan. Potensi tergali untuk mengencangkan kapasitas mengembangkan sumber daya diri menjadi manusia yang punya harapan, cita, dan visi.
Dalam derajat kesempurnaan untuk sama merasakan penderitaan rakyat, ia tanggalkan gelar bangsawan atas nama asas persamaan. Kala itu Belanda memang sadis, memberikan hak lebih kepada anak-anak bangsawan, dan menjepit rakyat biasa dengan ala kadar ‘kesejahtraan’.
Menarik garis lurus kepada masa depan, terhadap HOS Cokroaminoto kita dapatkan pelajaran. Perjuangannya tidak hanya menyentuh ‘kemerdekaan’ secara deklarasi. Lebih dari itu, visinya mengharap sebuah kemerdekaan pendidikan, kesejahtraan dan lepas dari berbagai belenggu penjajahan. Jika kita tanyakan kabar visi itu ? kita nyatakan bahwa masih hangat sekali, kemerdekaan pendidikan belum terwujud untuk sama di rasakan seluruh masyarakat Indonesia. Mahalnya pendidikan, amburadul akses dan fasilitas, kurangnya kesejahtraan guru dan berbagai macam problemtika lainnya. Bagaimana dengan kesejahtraan ? coba saja kita tengok berapa juta rakyat miskin ? Berapa juta rakyat gelandangan ?. Dan bagaimana dengan belenggu penjajahan ? nyatanya hanya berbeda nama dengan zaman Cokroaminoto dulu, jika dulu dihadapkan pada penjajahan kolonialisme , maka sekarang kita dihadapkan dengan penjajahan ekonomi dan teknologi. Coba tengok berapa hutang Indonesia ? bagaimana nasib koperasi sebagai basis kekuatan ekonomi rakyat ? Pembangun impor yang jelas hanya untung dicari tumbuh subur menguasai sumberdaya negri, sementara sebagian besar rakyat hanya menjadi fasilitas menjemput kekayaan aseng. Teknologipun semakin merajai, dominasinya menghalau budaya kerja keras dan gotong royong, rebah dalam kasur empuk, lepas misi membangun negri yang ada kesenangan diri pribadi. Teknlogi mewarnai sikap, prilaku dan tindakan, campur kebudayaan , hilang fertilisasi, hingga sedikit demi sedikit wajah manis masyarakat Indonesia tak beda dengan penajajah dulu. Senang mengejar kaya, memperkaya diri, memupuk egoisme dengan landasan “yang penting aku senang”.
Maka sangat baik sekali jika kita berkaca dalam, dan mengambil benang merah perjuangan Cokroaminoto dulu dengan konteks kehidupan sekarang. Kita butuh rakyat pejuang, yang tak henti menggapai visi kemerdekaan hakiki. Budak dunia terlalu banyak merajai, visinya hanya satu “kesenangan diri”. Kita yang sadar, perlu bergegas mengambil hikmah, mengamalkan gagasan dan semangat membangun bangsa. Sebagaimana pesan HOS Cokroaminoto, pegang kuat ilmu, murnikan tauhid, dan pandaikan siasat. Semoga Allah ridhoi kita menjadi manusia yang berada dalam garda etalase pejuang. Aamiin.
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naik kelas ke level World Class

  Bersama Coach Armala - Februari 2025 Pengalaman yang sangat berharga bagi saya bertemu sosok inspiratif Coach Armala. Pengalaman beliau memimpin perusahaan kelas dunia menyihir pemikiran saya, apakah saya bisa mengikuti jejak beliau dan melangkah lebih jauh ke level dunia ? untuk apa saya berjuang keras sampai ke tahap level tersebut ? terlalu tinggikah saya bercita-cita seperti itu, sedangkan keadaan saya saat ini mungkin sangat jauh dari level worldclass. Hingga pada akhirnya semua itu tampak logis dan mungkin. Beliau bercerita bagaimana tingginya tingkat disiplin pekerja Jepang, perusahaan dimana beliau dahulu ditempatkan. Orang Jepang mengukur kerja dengan produktifitas yang sangat tinggi, tidak leha-leha, dan selalu memiliki ambisi continuous improvement untuk menjadi baik dan terus lebih baik dari hari kemarin. Kemudian beliau sangat tertantang ketika keluar dari mulut seorang bos Jepang mengatakan perusahaannya tidak mendapatkan kontrak pekerjaan karena memiliki leader ora...

Bukan Sekedar Bangunan Rumah

Parahyangan Green Resort                Alhamdulillah sudah hampir 4 tahun saya menjalani profesi sebagai seorang property developer. Pengalaman paling berharga dalam membangun rumah adalah ketika melihat orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, menghuni rumah yang kita bangun, mereka bahagia, tersenyum ria, dan tumbuh berkembang bersama keluarga tercinta. Bagi saya membangun rumah dan perumahan bukan sekedar pekerjaan, profesi ini adalah bagian dari ladang dakwah saya menjalani misi yang Allah buka karpetnya kepada saya sejak 4 tahun lalu. Dulu saat menjelang kelulusan dari IPB, saya selalu berdo’a agar Allah buka jalan terbaik untuk karir yang benar-benar memberikan dampak kebermanfaatan luas. Bagai gayung bersambut, jarkoman sebuah program Management Trainee dari Harmonyland Group membuka rasa penasaran saya. Saya apply dan Alhamdulillah lolos. Sejak saat itu, nasihat terbaik yang saya dapatkan dari CEO Harmonyland untuk segera memant...

Belajar Mental Cerdas dari Singapura

  Merlion Park             Singapura sebagai negara kecil sangat dikenal oleh banyak negara dunia. Besar negara ini tidak lebih dari luas wilayah Jakarta - Depok tapi pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara khususnya sangat diperhitungkan. Siapa sangka negara kecil ini dulu juga miskin, sudahlah miskin sumber daya alam, penduduknya tidak berpendidikan, dan sebagaimana negara baru merdeka pada umumnya. Singapura ternyata pernah menjadi bagian dari negara Malaysia. Sejarah yang tidak dilupakan oleh warganya hingga keinginan mereka untuk berpisah menjadi negara utuh yang merdeka. Ada sebuah julukan unik miskinnya negeri ini dahulu, dikenal negara kota tanpa masa depan .            Dekade waktu berjalan, Singapura tidak kehilangan akal melihat miniminya sumber daya alam mereka. Pemimpinnya sangat memahami kemajuan negerinya tidak terikat oleh kekayaan alam tapi letaknya yang strategis mampu menjadi jembatan di...